Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Peternakan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Maret 2014

PENYAKIT DAN PENGENDALIAN PADA AYAM

Dalam beternak ayam hal yang wajib di perhatikan adalah mengenai kesehatan ternak, untuk mengetahui  jenis- jenis penyakit dan pengendalian penyakit pada ternak ayam  berikut adalah pembahasannya.

A. INFEKSI BAKTERI

1. Snot/Coryza 
Disebabkan oleh bakteri Haemophillus gallinarum. Penyakit ini biasanya menyerang ayam akibat adanya perubahan musim. Perubahan musim biasanya mempengaruhi kesehatan ayam. Snot banyak ditemukan di daerah tropis. Penyakit ini menyerang hampir semua umur ayam. Angka kematian yang ditimbulkan oleh penyakit ini mencapai 30% tetapi angka morbiditas atau angka kesakitannya mencapai hingga 80%. Snot bersifat kronis, biasanya berlangsung antara 1-3 bulan. Ayam betina berumur 18-23 minggu paling rentan terhadap penyakit ini. Namun menurut pengalaman kami, ayam berumur kurang dari 16 minggu mempunyai angka kematian yang cukup tinggi jika terkena penyakit ini. Sedangkan ayam yang sedang bertelur dapat disembuhkan tetapi produktivitas telur menurun hingga 25%. Penularan Snot dapat melalui kontak langsung, udara, debu, pakan, air minum, petugaskandang dan peralatan yang digunakan.

Dari berbagai referensi yang kami dapatkan gejala penyakit Snot pada ayam adalah sbb:
-     ayam terlihat mengantuk, sayapnya turun
-     keluar lendir dari hidung, kental berwarna kekuningan dan berbau khas
-     muka dan mata bengkak akibat pembengkakan sinus infra orbital
-     terdapat kerak dihidung
-     napsu makan menurun sehingga tembolok kosong jika diraba
-     ayam mengorok dan sukar bernapas
-     pertumbuhan menjadi lambat.

Pengobatan Snot yang diberikan adalah preparat sulfat seperti sulfadimethoxine atau sulfathiazole, menurut beberapa penulis penyakit ini dapat diobati dengan antibiotika seperti Ultramycin, imequil atau corivit. Kami menggunakan preparat enrofloksacyn atau lebih dikenal dengan Enflox produksi SHS dan saat ini kami sedang mencoba menggantinya dengan preparat amphycillin dan colistin atau lebih dikenal dengan Amphyvitacol produksi Vaksindo. Seorang penulis menyebutkan pengobatan tradisional juga dilakukan dengan memberikan susu bubuk yang dicampur dengan air dan dibentuk sebesar kelereng sesuai dengan bukaan mulut ayam dan diberikan 3 kali sehari.

Sedangkan pengobatan tradisional yang kami lakukan adalah memberikan perasan tumbukan jahe, kunir, kencur dan lempuyang. Air perasan ini dicampurkan pada air minum. Sedangkan ampasnya kami campurkan pada sedikit pakan. Selain ramuan ini menghangatkan tubuh ayam, ramuan ini juga berkhasiat untuk menambah napsu makan ayam. Selain memberikan obat yang diberikan bersama dengan air minum, kami juga memberikan obat secara suntikan pada ayam yang sudah parah. Obat yang kami berikan adalah Sulfamix dengan dosis 0.4 cc/kg BB ayam. Hal lain yang perlu dilakukan karena penyakit ini mempunyai penularan yang sangat cepat dan luas, ayam yang terkena Snot harus sesegera mungkin dipisahkan dari kelompoknya.

Upaya pencegahan yang dilakukan adalah dengan menjaga kebersihan kandang dan lingkungan dengan baik. Kandang sebaiknya terkena sinar matahari langsung sehingga mengurangi kelembaban. Kandang yang lembab dan basah memudahkan timbulnya penyakit ini.


2. Berak Kapur 
atau Pullorum
Berak kapur disebabkan oleh bakteri Salmonella pullorum. Berak kapur sering ditemukan pada anak ayam umur 1-10 hari.

Gejala yang timbul adalah :
-     napsu makan menurun
-     kotoran encer dan bercampur butiran-butiran putih seperti kapur
-     bulu dubur melekat satu dengan yang lain
-     jengger berwarna keabuan
-     badan anak ayam menjadi menunduk
-     sayap terkulai
-     mata menutup

Penulis yang lain mengatakan gejala anak ayam yang terkena berak kapur selain gejala yang disebutkan di atas, anaka ayam akan terlihat pucat, lemah, kedinginan dan suka bergerombol mencari tempat yang hangat.
Berbeda dengan ayam dewasa, gejala berak kapur tidak nyata benar. Ayam dewasa yang terkena berak kapur akan mengalami penurunan produktivitas telur, depresi, anemia, kotoran encer dan berwarna kuning.
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga sanitasi mulai dari mesin penetasan hingga sanitasi kandang dan melakukan desinfeksi kandang dengan formaldehyde sebanyak 40%. Ayam yang terkena penyakit sebaiknya dipisahkan dari kelompoknya, sedangkan ayam yang parah dimusnahkan.
Pengobatan Berak Kapur dilakukan dengan menyuntikkan antibiotik seperti furozolidon, coccilin, neo terramycin, tetra atau mycomas  di dada ayam. Penulis lain menyebutkan pengobatan dapat dilakukan dengan menggunakan preparat sulfonamide.

3. Berak Hijau
Penyebab penyakit ini belum diketahui secara pasti, demikian pula pengobatannya. Selama ini penyakit ini diduga disebabkan oleh bakteri sejenis Salmonella pullorum. Penularan berak hijau  sangat mudah yaitu melalui kontak langsung termasuk saat jantan mengawini betina dan melalui pakan dan minuman yang terkontaminasi dengan ayam yang sakit. Pengaruh penyakit ini dapat sampai ke DOC keturunan induk yang sakit.

Gejala penyakit ini adalah:
-          jengger berwarna biru
-          mata lesu
-          napsu makan menurun
-          sekitar pantat terlihat memutih dan lengket.

Upaya pencegahan merupakan hal utama antara lain dengan menjaga sanitasi kandang, memisahkan antara ayam yang sakit memberikan pakan yang yang baik.
Jika ayam yang terinfeksi mengalami kematian, lebih baik ayam tersebut dibakar agar bakteri tersebut ikut mati dan tidak menular ke ayam yang lain.

4. Kolera
Penyebab penyakit ini adalah bakteri Pasteurella gallinarum atau Pasteurella multocida. Biasanya menyerang ayam pada usia 12 minggu. Penyakit ini menyerang ayam petelur dan pedaging. Serangan penyakit ini bisa bersifat akut atau kronis. Ayam yang terserang kolera akan mengalami penurunan produktivitas bahkan mati. Bakteri ini menyerang pernapasan dan pencernaan.
Kolera dapat ditularkan melalui kontak langsung, pakan, minuman, peralatan, manusia, tanah maupun hewan lain. Pada serangan akut, kematian dapat terjadi secara tiba-tiba.

Sedangkan pada serangan kronis didapatkan gejala sbb:
-     napsu makan berkurang
-     sesak napas
-     mencret
-     kotoran berwarna kuning, coklat atau hijau berlendir dan berbau busuk
-     jengger dan  pial bengkak serta kepala berwarna kebiruan
-     ayam suka menggeleng-gelengkan kepala
-     persendian kaki dan sayap bengkak disertai kelumpuhan
-     lesi yang didapatkan pada unggas yang mengalami kematian pada kolera akut antara lain adalah :
+    perdarahan pintpoint pada membran mukosa dan serosa dan atau pada lemak abdominal
+    inflamasi pada 1/3 atas usus kecil
+    gambaran “parboiled” pada hati
+    pembesaran dan pembengkakan limpa
+    didapatkan material berbentuk cream atau solid pada persendian

Diagnosis secara tentative dapat didirikan atas riwayat unggas, gejala dan lesi postmortem. Sedangkan diagnosis definitive didapatkan pada isolasi dan identifikasi organisme ini.
Tindakan pencegahan sangat penting dilakukan antara lain dengan menjaga agar litter tetap kering, mengurangi kepadatan kandang, menjaga kebersihan peralatan kandang dan memberikan vitamin dan pakan yang cukup agar stamina ayam tetap terjaga.
Pengobatan kolera dapat dilakukan dengan menggunakan preparat sulfat atau antibiotik seperti noxal, ampisol atau inequil.


5. Chronic Respiratory Disease (CRD) 
atau ngorok 
atau Air Sac 
atau Sinusitis 
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycoplasma galisepticum. Biasanya menyerang ayam pada usia 4-9 minggu. Penuluaran terjadi melalui kontak langsung, peralatan kandang, tempat makan dan minum, manusia, telur tetas atau DOC yang terinfeksi.

Seorang penulis menyebutkan bahwa gejala CRD ini mirip dengan Snot atau Coryza yaitu:
-          batuk-batuk
-          napas berbunti atau ngorok
-          keluar cairan dari lubang hidung
-          nafsu makan turun
-          produksi telur turun
-          ayam suka menggeleng-gelengkan kepalanya

Sedangkan penulis lain mengatakan gejala yang timbul pada CRD adalah:
-     ayam kehilangan napsu makan secara tiba-tiba dan terlihat lesu
-     warna bulu pucat, kusam dan di beberapa lokasi terjadi perlengketan terutama di sekitar anus
-     terjadi inkoordinasi saraf
-     tinja cair dan berwarna putih

Pencegahan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari cara yang paling sederhana yaitu tidak membeli DOC dari produsen yang tidak diketahui  dan melakukan sanitasi kandang.
Pengobatan CRD pada ayam yang sakit dapat diberikan baytrit 10% peroral, mycomas dengan dosis 0.5 ml/L air minum, tetraclorin secara oral atau bacytracyn yang diberikan pada air minum.


6. Colibacillosis 
Penyebab penyakit ini adalah Escherichia coli. Problem yang ditimbulkan dapat infeksi akut berat dengan kematian yang tiba-tiba dan angka kematian yang tinggi hingga infeksi ringan dengan angka kesakitan dan kematian yang rendah.infeksi dapat terjadi pada saluran pernapasan, septicemia atau enteritis karena infeksi pada gastrointestinal. Penyakit ini dapat berdiri sendiri atau diikuti oleh infeksi sekunder. Infeksi sekunder yang menyertai penyakit ini adalah Mycoplasma gallisepticum. Semua umur dapat terkena penyakit ini, namun yang paling banyak adalah ayam usia muda.
Gejala yang ditimbulkan pada penyakit ini disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan oleh bakteri akibat pertumbuhan dan multiplikasi. Invasi primer terjadi pada system pernapasan dan system gastrointestinal. Omphalitis atau infeksi pada anak ayam terjadi karena penutupan tali pusat yang kurang baik atau karena invasi bakteri melalui cangkang telur pada saat inkubasi.

Berikut ini gejala yang timbul pada penyakit ini adalah:
-          napsu makan menurun
-          ayam lesu dan tidak bergairah
-          bulu kasar
-          sesak napas
-          kotoran banyak menempel di anus
-          diare
-          batuk

Pada septicemia akut dapat menyebabkan kematian yang tiba-tiba.

Pada pembedahan akan didapatkan:
-     dehydrasi
-     bengkak dan kongesti pada hati, limpa dan ginjal
-     perdarahan pinpoint pada organ viscera
-     eksudat fibrinous pada kantung udara, kantung jantung dan permukaan jantung, hati dan paru (sangat karakteristik)
-     usus menipis dan inflamasi serta mengandung mucous dan area perdarahan

Pencegahan dapat dilakukan dengan menjaga sanitasi kandang seperti menjaga ventilasi udara, litter yang terjaga kebersihannya, secara teratur melakukan desinfeksi terhadap peralatan dan fasilitas lainnya. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah menjaga kualitas pakan dan air minum, kepadatan kandang harus diperhatikan, penanganan mesin penetas telur dan menjauhkan ayam dari stress yang dapat menurunkan daya tahan tubuh.
Pengobatan Colibasillosis dapat dilakukan dengan obat-obat sulfa, neomisin, streptomisin dan tetrasiklin. Meskipun demikian, menurut info yang lain dikatakan pengobatan penyakit ini cenderung susah dan tidak menentu.



A.INFEKSI VIRAL

1. Tetelo
Newcastle Disease (ND)
Sampar Ayam
Pes Cekak
ND merupakan infeksi viral yang menyebabkan gangguan pada saraf pernapasan. Penyakit ini disebabkan oleh virus Paramyxo  dan biasanya dikualifikasikan menjadi:

a.     Strain yang sangat berbahaya atau disebut dengan Viscerotropic Velogenic Newcastle Disease (VVND) atau tipe Velogenik, tipe ini menyebabkan kematian yang luar biasa bahkan hingga 100%.
b.    Tipe yang lebih ringan disebut degan “Mesogenic”. Kematian pada anak ayam mencapai 10% tetapi ayam dewasa jarang mengalami kematian. Pada tingkat ini ayam akan menampakangejala seperti gangguan pernapasan  dan saraf.
c.     Tipe lemah (lentogenik) merupakan stadium yang hampir tidak menyebabkan kematian. Hanya saja dapat menyebabkan produktivitas telur menjadi turun dan kualitas kulit telur menjadi jelek. Gejala yang tampak tidak terlalu nyata hanya terdapat sedikit gangguan pernapasan.

ND sangat menular, biasanya dalam 3-4 hari seluruh ternak akan terinfeksi. Virus ini ditularkan melalui sepatu, peralatan, baju dan burung liar.
Pada tahap  yang mengenai pernapasan maka virus akan ditularkan melalui udara. Meskipun demikian pada penularan melalui udara, virus ini tidak mempunyai jangkauan yang luas. Unggas yang dinyatakan sembuh dari ND tidak akan dinyatakan sebagai “carrier” dan biasanya virus tidak akan bertahan lebih dari 30 hari pada lokasi pemaparan.

Gejala yang nampak pada ayam yang terkena penyakit ini adalah sebagai berikut:
-     excessive mucous di trakea
-     gangguan pernapasan dimulai dengan megaop-megap, batuk, bersin dan ngorok waktu bernapas
-     ayam tampak lesu
-     napsu makan menurun
-     produksi telur menurun
-     mencret, kotoran encer agak kehijauan bahkan dapat berdarah
-     jengger dan kepala kebiruan, kornea menjadi keruh, sayap turun, otot tubuh gemetar, kelumpuhan hingga gangguan saraf yang dapat menyebabkan kejang-kejang dan leher terpuntir.

Penanggulangan penyakit ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu:
-     ayam yang tertular harus dimusnahkan.
-     vaksinasi harus dilakukan untuk memperoleh kekebalan. Jenis vaksin yang kami gunakan adalah ND Lasota yang kami beli dari PT. SHS. Vaksinasi ND yang pertama, kami lakukan dengan cara pemberian melalui tetes mata pada hari ke 2. Untuk berikutnya pemberian vaksin kami lakukan dengan cara suntikan di intramuskuler otot dada.
-     untuk memudahkan untuk mengingat mengenai waktu pemberian vaksin, seorang penulis menyarankan agar memberikan vaksin ini dengan pola  444. maksudnya vaksin ND diberikan pada ayam yang berumur 4 hari, 4 minggu, 4 bulan dan seterusnya dilakukan 4 bulan sekali. Namun kami mempunyai sedikit perbedaan dengan jadwal pola 444.(lihat jadwal pemberian vaksin modifikasi kami)

Pencegahan yang harus dilakukan oleh para peternak mengingat penyakit ini sangat infeksius adalah sebagai berikut:
-     memelihara kebersihan kandang dan sekitarnya. Kandang harus mendapat sinar matahari yang cukup dan ventilasi yang baik.
-     memisahkan ayam lain yang dicurigai dapat menularkan penyakit ini.
-     memberikan ransum jamu yang baik.


2. Gumboro
Infectious Bursal Disease
Penyakit ini menyerang kekebalan tubuh ayam, terutama bagian fibrikus dan thymus. Kedua bagian ini merupakan pertahanan tubuh ayam. Pada kerusakan yang parah, antibody ayam tersebut tidak terbentuk. Karena menyerang system kekebalan tubuh, maka penyakit ini sering disebut sebagai AIDSnya ayam. Ayam yang terkena akan menampakan gejala seperti gangguan saraf, merejan, diare, tubuh gemetar, bulu di sekitar anus kotor dan lengket serta diakhiri dengan kematian ayam.
Virus yang menyebabkan penyakit ini adalah virus dari genus Avibirnavirus. Di dalam tubuh ayam, virus ini dapat hidup hingga lebih dari 3 bulan, kemudian akan berkembang menjadi infeksius. Gumoro memang tidak menyebabkan kematian secara langsung pada ayam, tetapi infeski sekunder yang mengikutinya akan menyebabkan kematian dengan cepat karena kekebalan tubuhnya tidak bekerja.

Seorang penulis menyebutkan bahwa gumoro menyerang anak ayam pada usia 2 – 14 minggu dengan gejala awal sbb:
-     napsu makan berkurang
-     ayam tampak lesu dan mengantuk
-     bulu tampak kusam dan biasanya disertai dengan diare berlendir yang mengotori bulu pantat
-     peradangan di sekitar dubur dan kloaka.biasanya ayam akan mematoki duburnya sendiri.
-     jika tidur, paruhnya menempel di lantai dan keseimbangan tubuhnya terganggu.

Sedangkan penulis yang berbeda menyebutkan gejala gumoro adalah sbb:
-     diare berlendir
-     nafsu makan turun
-     gemetar dan sukar berdiri
-     bulu di sekitar anus kotor
-     ayam suka mematuk di sekitar kloaka

Penulis yang lain menyebutkan bahwa gumoro dapat dibagi 2 yaitu gumoro klinik dan sub klinik. Gumoro klinik menyerang anak ayam berumur  3-7 minggu. Pada fase ini serangan terhadap kekebalan tubuh ayam tersebut hanya bersifat sementara antara 2-3 minggu. Gumoro subklinik menyerang anak ayam berumur 0-3 minggu. Penyakit ini paling menakutkan karena kekebalan tubuh ayam dapat hilang secara permanen, sehingga ayam dengan mudah terserang infeksi sekunder.
Gumoro menyebar  melalui kontak langsung, air minum, pakan, alat-alat yang sudah tercemar virus dan udara. Yang sangat menarik adalah gumoro tidak menular dengan perantaraan telur dan ayam sudah sembuh tidak menjadi “carrier”. Upaya penanggulangan gumoro ini dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu vaksinasi, menjaga kebersihan lingkungan kandang.


3. Bronchitis
Infectious Bronchitis
Penyakit ini disebabkan oleh Corona virus yang menyerang system pernapsan. Pada ayam dewasa penyakit ini tidak menyebabkan kematian, tetapi pada ayam berumur kurang dari 6 minggu dapat menyebabkan kematian. Informasi yang lain menyebutkan bahwa ayam yang terserang penyakit ini dan berumur di bawah 3 minggu, kematian dapat mencapai 30-40%. Penularan dapat terjadi melalui udara, peralatan, pakaian. Virus akan hidup selama kurang 1 minggu jika tidak terdapat ternak pada area tersebut. Virus ini mudah mati karena panas atau desinfektan.

Gejala penyakit IB ini sangat sulit untuk dibedakan dengan penyakit respiratory lainnya. Secara umum gambaran penyakit tersebut adalah:
-       batuk
-       bersin
-       rattling
-       susah bernapas
-       keluar lendir dari hidung
-       terengah-engah
-       napsu makan menurun
-       gangguan pertumbuhan
-       pada periode layer akan didapatkan produksi telur yang sangat turun hingga mendekati zero dalam beberapa hari, butuh waktu sekitar 4 minggu agar ayam kembali berproduksi, bahkan beberapa diantaranya tidak akan kembali ke normal. Telur yang dihasilkan akan berukuran kecil, cangkang telur lunak, bentuk telur menjadi irregular.

Sanitasi merupakan factor pemutus rantai penularan penyakit karena virus tersebut sangat rentan terhadap desinfektan dan panas. Pencegahan lain yang sangat umum dilakukan adalah dengan memberikan vaksinasi secara teratur.


4. Avian Pox
Avian pox mempunyai daya sebar yang relatif lambat. Avian pox disebabkan oleh minimal 3 strain atau tipe yaitu: fowl pox virus (virus cacar pada unggas), pigeon pox virus (virus cacar pada burung dara) dan canary pox virus (virus cacar pada burung kenari). Biasanya cacar yang terjadi pada ayam disebabkan oleh fowl pox virus. Virus ini dapat ditularkan secara langsung maupun tidak langsung. Virus ini sangat resisten pada keropeng yang kering dan dalam beberapa kondisi dapat hidup hingga beberapa bulan. Virus ini dapat ditransmisikan melalui beberapa spesies nyamuk. Nyamuk ini akan membawa virus yang infeksius ini setelah nyamuk tersebut menggigit unggas yang terinfeksi.
Meskipun fowl pox penyebarannya relatif lambat, kawanan unggas ini dapat berpengaruh selama beberapa bulan. Perjalanan penyakit ini memerlukan waktu sekitar 3-5 minggu.

Gejala yang didapatkan pada penyakit ini adalah:
-     pertumbuhan yang lambat pada unggas muda
-     telur menurun pada periode layer
-     kesulitan bernapas dan makan
-     dry pox, dimulai dari “small whitish foci” dan kemudian berkembang menjadi “wart-like nodules”. Nodule tersebut kemudian akan mengelupas dalam proses penyembuhan. Lesi ini biasanya terlihat pada bagian tubuh yang tidak berbulu seperti lubang telinga, mata , jengger, pial dan kadang-kadang ditemukan di kaki.
-     wet pox diasosiasikan dengan cavitas oral dan traktus respiratorius bagian atas, terutama pada laryng dan trakea.

Langkah pencegahan yang utama adalah memberikan vaksinasi pada ayam. Pemberian vaksinasi dilakukan dengan melakukan penusukan pada sayap dengan jarum khusus.


5. Marek (Visceral Leukosis)
Disebabkan oleh virus tipe DNA yang tergolong herpes tipe B. Marek diidentikan dengan penyakit anak ayam, meskipun demikian penyakit ini juga dapat menginfeksi ayam yang lebih tua. Anak ayam terserang adalah kelompok umur 3-10 minggu. Umur 8-9 minggu merupakan umur yang paling rawan. Penularan dapat terjadi secara kontak langsung, kotoran ayam, debu dan peralatan kandang.

Marek dapat menimbulkan beberapa variasi gejala klinis, antara lain:
-    Marek tipe visceral
Ditandai dengan lesi pada gonad, hati, limpa, ginjal dan kadang-kadang pada jantung, paru dan otot. Penyakit ini biasanya akut, rupanya unggas yang sehat akan mengalami kematian secara cepat dengan tumor internal yang masif.

-     Marek tipe neural
Ditandai dengan kelumpuhan yang progresif pada sayap, kaki dan leher. Penurunan berat badan, anemia, kesulitan bernapas dan diare merupakan gejala yang sering ditemukan .

-    Ocular leucosis atau “gray eye”
Morbiditas dan mortalitas biasanya sangat kecil tetapi disebutkan mendekati 25%. Gejalanya dikarakteristikan dengan spotty depigmentation atau diffuse graying pada iris mata. Pupil mata berbentuk irregular dan gagal bereaksi terhadap cahaya. Diare berat dan kematian.

-     Skin leukosis
Pembesaran folikel bulu karena akumulasi limfosit.

Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan vaksinasi pada DOC berumur 1 hari dengan vaksin Cryomarex HVT atau Cryomarex Rispens.Ayam yang terinfesi sebaiknya dimusnahkan agar tidak menularkan ke ayam yang sehat.



3. INFEKSI PROTOZOA

1. Berak Darah/ Koksidiosis
Berak darah atau sering disebut dengan koksidiosis disebabkan oleh protozoa dari genus Eimeria. Penularan penyakit ini dapat melalui kontak secara langsung maupun tidak langsung seperti kontak dengan droplet dari unggas yang terinfeksi. Pada saat unggas memakan koksidia, organisme ini akan menginvasi usus dan mengakibatkan kerusakan dan kemudian mulai berkembang biak. Beberapa minggu setelah terjadinya infeksi, koksidia akan berubah menjadi oocyst. Oocyst masih belum cukup matur, meskipun  oocyst  terdapat pada droplet, oocyst ini tidak dapat menginfeksi unggas lain kecuali ia berkembang  (sporulasi) menjadi bentuk yang lebih matang di litter. Bentuk inilah yang dapat menyebabkan infeksi pada unggas. Berat tidaknya penyakit ini tergantung dari jumlah protozoa yang termakan. Di dalam peternakan, penyakit ini sangat mudah ditularkan melalui alas kaki, baju, burung liar, peralatan, tempat pakan, serangga atau rodent.

Gejala yang timbul pada penyakit ini adalah sbb:
-     kotoran lembek cenderung cair dan berwarna coklat kehitaman kerena mengandung darah
-     pertumbuhan terhambat
-     napsu makan menurun
 -     pada pembedahan ayam yang mengalami kematian akibat penyakit ini akan ditemukan pada usus besarnya akan bengkak berisi darah.

Pencegahan dapat dilakukan dengan cara memberikan vaksinasi pada ayam pada usia 4 hari. Biasanya kami akan memberikan vaksinasi ini dengan melakukan penyemprotan pada pakan. Selain itu harus dilakukan sanitasi yang baik pada kandang DOC. Pilihlah pakan yang sudah mengandung koksidiostat ( preparat pembunuh protozoa Eimeria).


4. INFEKSI PARASIT

Cacingan
Worm Disease
Cacingan pada ayam  dapat disebabkan oleh:

1. Ascaridia galli
Infeksi cacing ini terutama menyerang ayam usia 3-4 bulan. Spesimen dari parasit ini kadang-kadang ditemukan dalam telur. Cacing ini berpindah tempat dari usus ke oviduct dan dapat masuk ke dalam telur pada saat pembentukan telur tersebut. Cacing dewasa mudah dilihat dengan mata telanjang karena panjang cacing dewasa mencapai ½ hingga 3 inchi.
Riwayat hidup cacing ini sangat simple. Cacing betina akan meletakan telurnya di usus unggas yang terinfeksi dan akan ikut dikeluarkan bersama tinja. Embrio akan terus berkembang dalam telur tersebut meskipun tidak akan langsung menetas. Larva dalam telur mencapai stadium infektif dalam 2-3 minggu. Telur yang mengandung embryo ini sangat tahan banting bahkan dalam kondisi laboratorium dapat bertahan hingga 2 tahun, sedangkan dalam keadaan biasa akan tetap bertahan hingga 1 tahun bahkan lebih. Hal yang penting di sini adalah desinfektan yang digunakan pada peternakan tidak dapat membunuh/ merusak telur. Unggas akan terinfeksi jika memakan telur cacing ini.
Unggas yang terinfeksi oleh cacing ini akan terlihat lesu, diare dan kurus. Kerusakan utama yang ditimbulkan adalah penurunan efisiensi pakan, namun kematian hanya timbul pada infeksi yang sangat berat.
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan sanitasi kandang dengan baik dan pemisahan ayam berdasarkan umur. Bersihkan kandang sebersih mungkin jika kandang akan digunakan untuk populasi ayam yang baru.Sedangkan obat yang digunakan adalah preparat piperazine yang hanya dapat memutus rantai penularan dengan membunuh cacing dewasa. Preparat yang biasa kami gunakan dan kami berikan tiap 4 minggu adalah Piperavaks produksi dari Vaksindo. Pemberian obat ini cukup dicampurkan pada air minum.

2. Heterakis gallinae
Parasit ini tidak menimbulkan akibat yang serius pada kesehatan ayam. Minimal tidak menimbulkan gejala atau patologi yang signifikan. Cara penularan cacing ini sama dengan Ascaris. Namun telur yang mengandung larva akan infektif dalam 2 minggu. Dalam cuaca yang dingin akan membutuhkan waktu yang lebih panjang. Parasit ini dapat dibasmi dengan fenbendazole.


3. Capillaria annulata atau Capllaria contorta
Cacing ini sering ditemukan pada esophagus dan tembolok. Parasit ini menyebabkan penipisan dan inflamasi pada mukosa. Pada system gastrointestinal bagian bawah, dapat ditemukan beberapa spesies parasit tetapi biasanya adalah Capillaria obsignata.
Berbeda dengan cacing yang lain, pembentukan embryo memakan waktu 6-8 hari dan akan sangat infeksius untuk peternakan. Kerusakan terparah akan terjadi pada 2 minggu setelah infeksi. Parasit ini akan menimbulkan inflamasi berat dan kadang-kadang terjadi perdarahan. Erosi pada usus akan menyebabkan kematian. Problem yang sering ditimbulkan oleh parasit ini adalah penurunan pertumbuhan, penurunan produksi dan fertilitas.
Sanitasi yang baik merupakan kunci pencegahan yang utama. Pemberian vitamin A dapat memberikan nilai tambah. Parasit ini dapat dibasmi dengan menggunakan fenbendazole atau leviamisole.

Secara umum, seorang penulis menggambarkan gejala penyakit cacingan pada ayam adalah sbb:
-     tubuh ayam menjadi kurus
-     nafsu makan berkurang
-     sayap kusam dan terkulai
-     kotoran encer, berlendir berwarna keputihan dan kadang berdarah
-     pertumbuhan lamban

Penanggulangan yang dapat dilakukan secara umum adalah:
-     sanitasi kandang dengan desinfektan
-     pemberian Caricid pada umur 4-6 minggu dengan dosis 30 ml/3 liter air untuk 100 ekor ayam. Umur lebih dari 6 minggu diberi dosis 6 ml/10 L air untuk 100 ekor ayam
-     campurkan premix 2.4% ke dalam makanan dengan dosis 2.5 kg/kg pakan diberikan selama 5-6 hari

--- Faktor Lain ---

Faktor utama penyebab ayam sakit adalah karena kecerobohan dalam mengelola peternakan yang diakibatkan oleh faktor-faktor :
1. Sanitasi yang tidak benar, dengan ciri peternakan menjadi kotor, bau dan terkesan jorok
2. Tidak melakukan pembersihan rutin dan pemberian obat dan vitamin kepada unggas yang ada.
3. Dan tidak dilakukannya vaksinasi pada unggas.

Yang terpenting adalah
" LAKUKAN VAKSINASI "
Dengan cara-cara yang benar dan waktu yang teratur 

Sumber :

informasi Peternakan Ayam

https://www.facebook.com/pages/informasi-Peternakan-Ayam/106155702746168

Jumat, 15 November 2013

AYAM HUTAN HIJAU (Green Junglefowl)


Deskripsi Ayam Hutan Hijau

Ayam hutan hijau (bahasa Latin = Gallus varius) adalah nama sejenis burung yang termasuk kelompok unggas dari suku Phasianidae, Ayam hutan diyakini sebagai nenek moyang sebagian ayam peliharaan yang ada di Nusantara. Ayam ini memiliki nama lain seperti atau cangehgar (Sunda), ayam alas (Jawa). Memiliki nama ilmiah Gallus varius (Shaw, 1798), ayam ini dalam bahasa Inggris dikenal sebagai Green Junglefowl, Javan Junglefowl, Forktail, atau Green Javanese Junglefowl, merujuk pada warna dan asal tempatnya.
Gambar Ayam Hutan Hijau
Burung yang berukuran besar, panjang tubuh total (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor) sekitar 60 cm pada ayam jantan, dan 42 cm pada yang betina. Jengger pada ayam jantan tidak bergerigi, melainkan membulat tepinya; merah, dengan warna kebiruan di tengahnya. Bulu-bulu pada leher, tengkuk dan mantel hijau berkilau dengan tepian (margin) kehitaman, nampak seperti sisik ikan. Penutup pinggul berupa bulu-bulu panjang meruncing kuning keemasan dengan tengah berwarna hitam. Sisi bawah tubuh hitam, dan ekor hitam berkilau kehijauan. Ayam betina lebih kecil, ayam ini juga jauh lebih gelap daripada ayam hutan lainnya kuning kecoklatan, Bulu keseluruhan nya adalah coklat gelap di atas berbintik-bintik dengan bulu hijau tua yang membentuk penampilan bersisik , coklat muda pada bagian bawah dengan dengan garis-garis dan bintik hitam. Iris merah, paruh abu-abu keputihan, dan kaki kekuningan atau agak kemerahan.
Ayam yang menyukai daerah terbuka dan berpadang rumput, tepi hutan dan daerah dengan bukit-bukit rendah dekat pantai. Ayam-hutan Hijau diketahui menyebar terbatas di Jawa dan kepulauan Nusa Tenggara termasuk Bali. Di Jawa Barat tercatat hidup hingga ketinggian 1.500 m dpl, di Jawa Timur hingga 3.000 m dpl dan di Lombok hingga 2.400 m dpl.

Ayam-hutan Hijau memakan aneka biji-bijian, pucuk rumput dan dedaunan, aneka serangga, serta berbagai jenis hewan kecil seperti laba-laba, cacing, kodok dan kadal kecil.
Ayam ini kerap terlihat dalam kelompok, 2 – 7 ekor atau lebih, mencari makanan di rerumputan di dekat kumpulan ungulata besar seperti kerbau, sapi atau banteng. Pada malam hari, kelompok ayam hutan ini tidur tak berjauhan di rumpun bambu, perdu-perduan, atau daun-daun palem hutan pada ketinggian 1,5 – 4 m di atas tanah.
Gambar Ayam Jantan dan Betina Gallus varius
Ayam hutan hijau berkembang biak antara bulan Oktober-Nopember di Jawa Barat dan sekitar Maret-Juli di Jawa Timur. Sarang dibuat secara sederhana di atas tanah berlapis rumput, dalam lindungan semak atau rumput tinggi. Masa menetas telur selama 21 hari (Dan Cowel : gbwf.org :1997- 2012). Telur 3-4 butir berwarna keputih-putihan. Jumlah telur yang diletakkan per individu ayam berkisar 3 sampai 5 dan rata-rata 3,74 telur. (M. S. Prana. Dkk : 2004)
Tak seperti keturunannya ayam kampung, Ayam-hutan Hijau pandai terbang. Ayam yang dewasa mampu terbang seketika dan vertikal dan Hrizontal pada ketinggian 7 m atau lebih. Pagi dan petang hari, ayam jantan berkokok dengan suaranya yang khas, nyaring sengau. Mula-mula bersuara cek-kreh.. berturut-turut beberapa kali seperti suara bersin, diikuti dengan bunyi cek-ki kreh.. 10 – 15 kali.
Ayam ini dapat membawa sejumlah penyakit yang dapat membahayakan fauna unggas lainnya seperti virus penyakit Newcastle (NDV) , Mycoplasma gallisepticum , dan proventricular parasit Dispharynx sp . di Kepulauan Galapagos ( Gottdenka et al :  2005).

Taman Bacaan
http://id.wikipedia.org/wiki/Ayam-hutan_hijau, diakses Pada: 26 September 2013, 11: 57.
http://www.gbwf.org/pheasants/junglefowl_green.html, diakses pada: 27 September 2013 0 : 40
http://www.besgroup.org/2010/02/23/green-junglefowl/, diakses pada: 27 September 2013 1 : 31

Rabu, 05 Juni 2013

SUSU DAN PENGOLAHANNYA

BAB I
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Nilai gizinya yang tinggi menyebabkan susu menjadi medium yang sangat di sukai mikroorganisme untuk pertumbuhan dan perkembangannya sehingga dalam waktu singkat susu menjadi tidak layak dikonsumsi bila tidak ditangani secara benar. Susu merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting dalam mencukupi kebutuhan gizi masyarakat, sehingga perlu mendapat perhatian besar mengingat banyaknya kasus gizi buruk dikalangn masyarakat. Untuk pemulihan kondisi status gizi tersebut, saat ini mulai dikembangkan program gerakan minum susu bagi masyarakat di berbagai daerah di Indonesia.
Susu sangat mudah rusak bila tidak ditangani dengan tepat. Untuk mencegah kerusakan pada susu, susu dapat diolah menjadi produk olahan. Proses pengolahan susu bertujuan untuk memperoleh susu yang beraneka ragam,berkualitas tinggi, berkadar gizi tinggi, tahan simpan, mempermudah pemasaran, transportasi dan sekaligus meningkatkan nilai tukar dan daya guna bahan mentahnya. Mikroorganisme yang berkembang di dalam susu selain menyebabkan daya simpan susu menjadi singkat, harga jual murah yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi pendapatan peternak sebagai produsen susu.
Kerusakan pada susu disebabkan oleh terbentuknya asam laktat sebagai hasil fermentasi laktosa oleh bakteri koli yang dapat menyebabkan aroma susu menjadi berubah dan tidak disukai oleh konsumen. Untuk meminimalkan kontaminasi oleh mikroorganisme dan menghambat bakteri pada susu agar dapat disimpan di tempat yang bersih dan steril.

2.      Rumusan Masalah
Dalam hal memahami makalah ini secara fokus dan mendalam penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut
1.      Bagaimana jenis susu yang baik?
2.      Bagaimana proses pengolahan susu?
3.      Faktorapasaja yang menyebabkan kerusakan susu?
4.      Apa manfaat susu dalam kehidupan sehari- hari?

3.      Tujuan Penulisan
Adapun tujuan ditulisnya makalah ini adalah sebagai berikut
1.      Memaparkan jenis- jenis susu yang baik
2.      Menjelaskan proses pengolahan susu
3.      Menerangkan faktor- faktor penyebab kerusakan susu

4.      Memaparkan manfaat susu dalam kehidupan sehari- hari

BAB II
PEMBAHASAN
SUSU DAN PENGOLAHANNYA
1.      Pengertian Susu
Susu adalah cairan bergizi  berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia betina. Susu adalah sumber gizi utama bagi bayi sebelum mereka dapat mencerna makanan padat. Susu binatang (biasanya sapi) juga diolah menjadi berbagai macam produk seperti yogurt,es krim, keju,mentega, susu kental manis, susu bubuk dan lain- lainnya untuk di konsumsi manusia.
Dewasa ini, susu memiliki banyak fungsi dan manfaat. Untuk anak dalam masa umur produktif, susu membantu pertumbungan mereka. sementara itu, untuk orang lanjut usia, susu membantu menopang tulang agar tidak keropos. Susu mengandung banyak vitamin dan protein. Oleh karena itu, setiap orang dianjurkan minum susu. Sekarang banyak susu yang dikemas dalam bentuk yang unik. Tujuannya yaitu agar orang tertarik untuk membeli dan meminum susu.
2.      Sejarah Susu
Pada zaman dahulu, susu telah dipakai sebagai bahan pokok pangan manusia. Manusia mengambil susu dari hewan yang menghasilkan susu, seperti sapi, kuda, dan domba. Sapi dan domba mulai dijinakkan sejak 800 SM dan diambil daging, bulu, dan susunya. Di Timur Tengah, susu bahkan difermentasi menjadi keju oleh para pengembara gurun disan. Diperkirakan susu mulai masuk kedaratan Eropa pada abad 5000 SM melewati daerah Anatolia. Sementara itu, susu mulai masuk ke Inggris pada periode Neolitik.
Pengguna keju dan susu dari Timur Tengah lewat Turki mulai dikenal oleh bangsa Eropa pada zaman Pertengahan. Kemudian, pada abad ke- 15, para pelaut mulai membawa sapi perah untuk dipelihara dan diternakkan didaratan Eropa untuk konsumsi susu. Susu sapi sendiri baru dikenal oleh bangsa Indonesia lewat penjajahan Belanda pad abad Ke 18.
3
.      Sumber Susu
Susu tidak hanya dadri sapi tetapi juga dari beberapa hewan mamalia lainnya, diantanya
1.      domba
2.      kambing
3.      kuda
4.      keledai, dan
5.      unta, termasuk unta di amerika selatan seperti ilama
di Rusia dan daerah Laplandia, sejenis peternakan rusa perah dibuat untuk logistik susu dibeberapa daerah di lingkar kutub utara. Susu kuda dan keledai mengandung lemak sekitar 50% lebih rendah dari pada susu sapi. Sementara itu, susu paus mengandung kandungan lemak terbesar, yaitu 50% dari kadar susu tersebut. Namun, susu paus tidak dikonsumsi oleh manusia.
4.      Syarat Susu yang Baik
Saat masih berada di dalam kelenjar susu, susu masih steril. Namun, apabila sudah terkena udara, susu sudah tidak bisa dijamin kesterilannya. Adapun syarat susu yang baik meliputi banyak faktor, seperti warna, rasa, bau, berat jenis, kekentalan, titik beku, titik didih, dan tingkat keasaman.
Warna susu bergantung pada beberapa faktor seperti jenis ternak dan pakannya. Warna susu normal biasanya berkisar dari putih kebiruan hingga jinggakunning keemasan. Warna putihnya merupakan hasil dispersi cahaya dari butiran- butiran lemak, protein, dan mineral yang ada di dalam susu. Lemak dan beta karoten yang larut menciptakan warna kuning. Apabila kandungan lemak dalam susu diambil, warna biru akan muncul.
Susu terasa sedikit manis dan asin (gurih) yang disebabkan adanya kandungan gula laktosa dan garam mineral di dalam susu. Rasa susu sendiri mudah sekali berubah bila terkena benda- benda tertentu, misalnya makanan ternak penghasil susu, kerja enzim dalam tubuh ternak, bahkan juga wadah tempat menampung susu hasil perahan. Bau susu umumnya sedap, tapi juga sangat mudah berubah bila terkena faktor- faktor diatas.
Berat jenis susu adalah 1,028kg/L. Penetapan berat jenis susu harus dilakukan 3 jam setelah susu diperah, sebab berat jenis ini dapat berubah, dipengaruhi oleh perubahan kondisi lemak susu, ataupun karena gas yang ada di dalam susu. Vikositas susu biasanya berkisar antara 1,5 sampai 2 cP, yang dipengaruhi oleh bahan padat susu, lemak, serta temperatur susu.
Titik beku susu di Indonesia adalah -0,520 oC, sedangkan titik didihnya adalah 100,16 oC. Titik didih dan titik bekku ini akan mengalami perubahan apabila dilakukan pemalsuan susu dengan penambahan air yang terlalu banyak karena titik didih dan titik beku air yang berbeda.
Susu segar mempunyai sifat amfoter, yaitu dapat berada di antara sidfat asam dan sifat basa. Secara alami, Ph susu segar berkisar 6,5- 6,7. Bila pH susu lebih rendah dari 6,5, berarti terdapat kolostrum atau aktifitas bakteri.
5.      Jenis Produk Susu
Berdasarkan kandungan lemak yang terdapat di dalamnya, produk susu dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu susu murni (whole milk), susu kurang lemak (reduced fat milk), susu rendah lemak ( low fat milk), dan susu bebas lemak (free- fat milk) atau susu skim (skim milk).
Susu murni harus mengandung sekurang- kurangnya 3,25% lemak susu dan 8,25%  padatan susu bukan lemak (protein, karbohidrat, vitamin, larut air, dan mineral). Kandungan vitamin A dan D dalam susu bersifat fakultatif.
Susu kurang lemak banyak dipilih oleh konsumenyang ingin mengurangi konsumsi lemak di dalam susu. Sesuai dengan namanya, kadar lemak pada susu telah dikurangi sehingga tersisi 1%.
Pada susu skim, kadar lemaknya dikurangi hingga hampir tidak ada sama sekali (0,1%), tetapi residu dari lemak susunya boleh tersisa hingga maksimum 0,5%. Karena vitamin A dan D yang larut dalam lemak ikut hilanhpada proses penghilangan lemak. Pada susu kurang lemak, susu rendah lemak, dan susu skim umunya ditambahkan kedua vitamin tersebut.
Susu murni yang dipanaskan selama beberapa waktu akan berubah menjadi evaporated milk. Susu ini terbentuk melalui pemanasan susu dengan menggunakan pompa vakum untuk menghilangkan kira- kira 60% kadar airnya. Selain menghilangkan air, dalam pmbuatan evaporated milk juga dilakukan penambahan vitamin D srta standarisasi nutrisi. Selanjutnya, susu dipanaskan pada suhu 115,5- 118,5 oC selama 15 menit untuk sterilisasi . hasilnya, evaporated milk akan berstruktur lebih pekat dibandingkan susu murni dan mengandung kira- kira 25% paatan susu bukan lemak.
6.      Proses Pengolahan Susu
Susu sapi merupakan bahan makan yang mudah rusak sehingga perlu mendapatkan perawatan secara khusus. Berikut ini, adalah proses pengolahan susu sapi.
1. Setelah mendapatkan susu hasil perahan, segera bawa susu hasil perahan trsebut ke kamar susu, kemudian disaring. Penyaringan harus dilakukan segera untuk mencegah kuman kuman yang terdapat dalam air susu berkembang biak lebih lanjut.
2. Setelah disaring, baru lakukan penakaran apabila ingin mengetahui jumlah produksi.
3. Kemudian, susu hasil perahan dari beberapa ekor sapi tersebut dicampur perlahan- lahan sampai menjadi campuran air susu yang homogen.
4. Selanjutnya, air susu dialirkan kealat pendingin. Untuk pendinginan, diperlukan suhu 10- 15 oC selama 2- 3 jam. Pendinginan air susu bertujuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri sehingga air susu sapi bertahan lama. Disamping itu, bisa juga melakukna pasteurisasi terlebih dahulu sebelum dialirkan kealat pendingin agar organisme atau bakteri yang merugikan bisa mati.
5. Secara sederhana, pendinginan bisa dilakukan dengan menempatkan botol- botol air susu atau susu yang sudah dibungkus dalam kantong plastik, kemudian dimasukkan kedalam bak yang berisi es. Sementara itu, pasteurisasi sederhana dapat dilakukan dengan cara merebus air susu d atas kompor pada temperatur 74 oC selama 6 menit.
6. Setelah proses pendinginan atau pasteurisasi selesai, susu boleh dimasukkan kedalam botol- botol  untuk dikirim kekonsumen.
7. Susu sapi yang tidak melewati tahap pendinginan atau pasteurisasi sebelum dimasukkan kedalam botol akan memiliki kualitas yang rendah serta mudah rusak.

7.      Faktor- Faktor Penyebab Kerusakan pada Susu
Susu merupakan bahan pangan yang berasal dari hewan yang tidak tahan lama disimpan dan mudah rusak  (pershable food) serta merupakan bahan pangan berpotensial mengandung bahaya (potentially hazardous foood). Menurut Winarno FG (2004), kerusakan bahan pangan seprti susu dapat berlangsung dengan cepat. Kerusakan pada susu dapat disebabkan oleh faktor- faktor sebagai berikut.
a.       Pertumbuhan dan Aktifitas Mikroba
Pertumbuhan dan aktifitas mikroba yang paling utama adalah bakteri, ragi, dan kapang. Bebrapa mikroba tersebut dapat membentuk lendir, gas, busa, warna yang menyimpang, asam, dan racun.
b.      Aktifitas Enzim- enzim di dalam Susu
Susu yang terdapat pada susu dapat berasal dari mikroba atau sudah ada pada bahan pangan ternak secara normal. Adanya enzim memungkinkan terjadinya reaksi- reaksi kimia lebih cepat bergantung pada jenis enzim yang ada. Selain itu, enzim juga dapat mengakibatkan bermacam- macam perubahan pada komposisi susu.
c.       Suhu
Termasuk juga pemanasan dan pendinginan. Pemanasan dengan suhu yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kerusakan protein (denaturasi), emulsi lemak, dan vitamin. Sedangkan pembekuan dapat menyebabkan pecahnya emulsi dan lemaknya akan terpisah. Pembekuan juga dapat menyebabkan kerusakan protein susu dan menyebabkan penggumpalan.
d.      Kadar Air
Kadar air sangat berpengaruh pada daya simpan susu karena membantu pertumbuhan mikroba.
e.       Udara terutama Oksigen
Oksigen dapat merusak vitamin, warna susu, cita rasa, serta merupakan pemicu pertumbuhan mikroba aerobik. Susu yang mengandung lemak dapat menyebabkan ketengikan karena lipoksidase.
f.       Sinar Matahari
Susu yang terkena sinar matahari secara langsung dapat berubah cita rasanya serta terjadi oksidasi lemak dan perubahan protein.
g.      Jangka Waktu Penyimpanan
Umumnya, waktu penyimpanan susu yang lama akan menyebankan kerusakan yang lebih besar.
h.      Mikroorganisme sebagai Indikator Cemaran dalam Susu
Mikroorganisme menggunakan susu sebagai bahan yang sangat ideal untuk pertumbuhannya. Mikroorganisme dalam bahan pangan adalah mikroorganisme yang umum ditemukan dalam saluran pencernaan manusia dan hewan seperti bakteri koloform. Adanya indikator mikroorganisme didalam suatu makanan menunjukkan telah terjadi kontaminasi kotoran dan sanitasi yang tidak baik terhadap air, makanan, susu, dan produk susu.
1.      Manfaat Susu dalam Kehidupan Sehari- hari

1.      Nutrisi Hewan Mamalia
Sebagian besar hewan mamilia, termasuk manusia, menyusui anaknya dengan cara langsung melalui ambing susu induknya. Beberapa kebudayaan meneruskan kebiasaan memberi air susunya hingga mencapai umur 7 tahun.
2.      Gizi untuk Manusia
Dibeberapa bangsa, terutama bangsa eropa minum susu telah menjadi kebiasaan yang lumrah dilakukan setiap sarapan. Susu diproduksi dengan cara mendirikan peternakan sapi perah. Pada zaman ini, susu tidak hanya diminum, melainkan diubah bentuk menjadi margarin, yogurt, bahkan es krim. Susu pun terus dikembangkan seiring dengan kemajuan zaman. Di Eropa, industri susu sangat maju dalam hal teknologi dan kualitas susu itu sendiri. Susu- susu yang diproduksi di Eropa, rata- rata mengandung kandungan gizi yang tinggi. Ini sangat baik bagi kesehatan dan pertumbuhan kita. Hal ini yang menyebabkan tinggi rata- rata orang Eropa jauh dari tinggi rata- rata orang Asia.
Karena memiliki kandungan nutrisi tersebut, maka susu memiliki manfaat yang tidak sedikit, diantaranya sebagai berikut
a.       Mencegah osteoporosis dan menjaga tulang tetap kuat. Bagi anak- anak, susu berfungsi untuk pertumbuhan tulang yang membuat anak menjadi bertambah tinggi.
b.      Menurunkan tekanan darah.
c.       Mencegah kerusakan gigi dan menjaga kesehatan mulut. Susu mampu mengurangi keasaman mulut, merangsang air liur, mengurangi plak, dan mencegah gigi berlubang.
d.      Menetralisr racun seperti logam atau timah yang  mungkin terkandung dalam makanan
e.       Mencegah terjadinya kanker kolon atau kanker usus.
f.       Mencegah diabetes tipe 2
g.      Mempercantik kulit, membuatnya lebih bersinar.
h.      Membantu agar lebih cepat tidur karena kandungan susu dapat merangsang hormon melatonin yang akan membuat tubuh mengantuk.

3.      Susu sebagai Aplikasi Koloid
Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya antara larutan atau suspensi.  Larutan memiliki sifat homogen dan stabil. Suspensi memiliki sifat heterogen dan labil sedangkan koloid memiliki sifat heterogen dan stabil. Koloid merupakan sistem heterogen yaitu suatu zat didispersikan ke dalam suatu media yang homogen. Ukuranzatyang didispersikan berkisar dari satu nanometer (nm) hingga satu mikrometer (mic.m).
Emulsi adalah zat cair yang berbeda jenisnya dalam keadaan koloid. Dua zat air ini tidak saling melarutkan. Misalnya air susu, air santan, serta air dalam minyak seperti minyak rambut dan minyak ikan.
Air tidak bisa bercampur dengan minyak. Jika air cocok dengan sedikit minyak, minyak akan menyebar ksluruh bagian air tetapi jika dibiarkan, akan kembali berpisah.  Apabila ditambahkan air sabun pada campuran itu, setelah cocok, butir- butir minyak akan tercampur rata lagi ke seluruh bagian air. Sabun ini berfungsi sebagai satbilisator (pemantap) untuk mencegah terpisahnya butir- butir minyak dengan air.
Contoh lain emulsi adalah air susu yang merupakan butir- butir susu dalam air. Air susu kalau dibiarkan akan masam dan pecah (air dan lemak terpisah). Oleh karena itu, perlu diberi stabilisator kasein untuk mencegah pemisahan. Perhatikan tiga contoh campuran dibawah ini.
1.      Campuran air dan sirup
2.      Campuran air dan susu
3.      Campuran air dan pasir
Jika kita mencampurkan air dengan sirup maka sirup akan terdispersi (tercampur) dengan air secara homogen (bening). Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan biasa maupun penyaringan yang lembut (penyaringan mikro). Secara makrokopis atau mikrokopis, campuran ini tampak homogen, tidak dapat dibedakan mana yang air dan mana yang sirup. Campuraninilah yangdinamakna larutan.
Jika kita mencampurkan susu (misalnya susu instan) dengan air, ternyata susu larut tetapi tidak larut tersebut tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan (hasil penyaringan tetap keruh). Secara makroskopis, campuran ini tampak homogen. Akan tetapi, jika diamati dengan mikroskop ultra, ternyata masih dapat dibedakan partikel- pertikel lemak susu yang tersebar didalam air. Campuran seperti inilah yang disebut koloid.
Jika kita mencampurkan air dengan pasir, maka pasir akan terdispersi (bercampur) dengan air secara heterogen dan langsung memisah antara air dan pasir. Pasir akan mengendap di dasar air dan dapat dipisahkan dengan dengan penyaringan biasa bahkan dapat dipisahkan dengann cara dituang secara perlahan- lahan. Secara makrokopis, campuran ini ini suda tampak heterogen, dapat dibedakan manan yang air dan mana yang pasir. Campuran seperti inilah yang disebut suspensi.
Koloid tergolong campuran heterogen (dua pase) dan stabil. Zat yang didispersikan disebutkan fase terdispersi sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan zat disebut medium dispersi. Fase terdispersi besifat diskontinu (terputus- putus) sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada campuran susu dengan air, fase terdispersi adalah lemak sedangkan medium dispersinya adalah air.


BAB III
PENUTUP
1.      SIMPULAN
Susu adalah cairan bergizi  berwarna putih yang dihasilkan oleh kelenjar susu mamalia betina. Susu adalah sumber gizi utama bagi bayi sebelum mereka dapat mencerna makanan padat. Susu tidak hanya dadri sapi tetapi juga dari beberapa hewan mamalia lainnya, diantanya
1.      domba
2.      kambing
3.      kuda
4.      keledai, dan
5.      unta, termasuk unta di amerika selatan seperti ilama
Saat masih berada di dalam kelenjar susu, susu masih steril. Namun, apabila sudah terkena udara, susu sudah tidak bisa dijamin kesterilannya. Adapun syarat susu yang baik meliputi banyak faktor, seperti warna, rasa, bau, berat jenis, kekentalan, titik beku, titik didih, dan tingkat keasaman.
Berdasarkan kandungan lemak yang terdapat di dalamnya, produk susu dapat dibedakan menjadi beberapa tipe yaitu susu murni (whole milk), susu kurang lemak (reduced fat milk), susu rendah lemak ( low fat milk), dan susu bebas lemak (free- fat milk) atau susu skim (skim milk).
Susu merupakan bahan pangan yang berasal dari hewan yang tidak tahan lama disimpan dan mudah rusak  (pershable food) serta merupakan bahan pangan berpotensial mengandung bahaya (potentially hazardous foood). Menurut Winarno FG (2004), kerusakan bahan pangan seprti susu dapat berlangsung dengan cepat. Kerusakan pada susu dapat disebabkan oleh faktor- faktor sebagai berikut.
susu memiliki manfaat yang tidak sedikit, diantaranya sebagai berikut.
a.       Mencegah osteoporosis dan menjaga tulang tetap kuat. Bagi anak- anak, susu berfungsi untuk pertumbuhan tulang yang membuat anak menjadi bertambah tinggi.
b.      Menurunkan tekanan darah.
c.       Mencegah kerusakan gigi dan menjaga kesehatan mulut. Susu mampu mengurangi keasaman mulut, merangsang air liur, mengurangi plak, dan mencegah gigi berlubang.
d.      Menetralisr racun seperti logam atau timah yang  mungkin terkandung dalam makanan
e.       Mencegah terjadinya kanker kolon atau kanker usus.
f.       Mencegah diabetes tipe 2
g.      Mempercantik kulit, membuatnya lebih bersinar.
h.      Membantu agar lebih cepat tidur karena kandungan susu dapat merangsang hormon melatonin yang akan membuat tubuh mengantuk.
  


DAFTAR PUSTAKA

http://www.agribisnis.net/disp_informasi/1/3/61/1081/pengolahan_susu_segar.html
http://kaffaitu.wordpress.com/2012/01.09/susu-dan-pengolahannya/